Menolak Stagnasi: Manifestasi Hakikat Hijrah di Ambang Tahun Baru Islam

Mohammad Anis Sumadi | Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Syariah (PDES) Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Sebab di Balik Munculnya Kalender Hijriah, Ada Cerita Awalnya dari Surat Yang Tidak Ada Tanggalnya

Pada tanggal 16 Juni 2026, yang juga merupakan tanggal 1 Muharram 1448 Hijriah, ketika orang membicarakan tahun tersebut secara otomatis membuat orang teringat akan sejarah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang hijrah dari Kota Mekkah ke Kota Madinah tepatnya pada tahun 622 Masehi. Selanjutnya, hal ini terkait dengan munculnya sistem penanggalan yang disebut kalender Hijriah dalam agama Islam. Awal pembuatan sistem ini diusulkan oleh Umar bin Khattab saat ia menjabat sebagai khalifah, dengan tujuan mempermudah urusan administrasi dan penanggalan bagi umat Muslim. Sebelum sistem tahun Hijriah dibuat, masyarakat Arab tidak memiliki konsep tentang tanggal, bulan, atau tahun. Sehingga membuat sistem administrasi dan pengarsipan dokumen pada masa itu menjadi lebih sulit. Masa tersebut terjadi ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Akhirnya, beliau menerima surat dari Gubernur Abu Musa al-Asy’ari karena mendengar berita tentang peristiwa itu. Akhirnya, pada tahun 17 Hijriah, Khalifah Umar bin Khattab bersama para sahabat berdiskusi untuk menentukan tanggal awal sistem penanggalan Islam. Dalam rapat itu, banyak orang memberikan saran. Beberapa mengusulkan bahwa awal penanggalan Islam dimulai dari tahun lahir Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang menyarankan awal penanggalan Islam adalah tahun Nabi diangkat menjadi Rasul, yaitu tahun turunnya wahyu pertama. Sementara itu, ada pula yang mengusulkan awal penanggalan Islam ditentukan dari tahun wafat Nabi Muhammad SAW.

Namun semua usulan di atas ditolak karena khawatir menyebabkan banyak perdebatan di tengah masyarakat. Kemudian muncul sahabat Ali bin Abi Thalib, dia mengusulkan bahwa tahun pertama dalam penanggalan Islam ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad karena fenomena itu memiliki banyak makna dan hikmah yang tersirat. Akhirnya, Khalifah Umar bin Khattab menyetujui karena peristiwa tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah. Akhirnya, bulan Muharram ditetapkan sebagai awal dari bulan pertama dalam kalender Islam, sedangkan bulan Dzulhijjah menjadi bulan terakhir.

Memahami Hakikat Hijrah: Bukan Sekadar Perpindahan Fisik

Secara bahasa (etimologi), kata hijrah berarti pergi dari suatu tempat ke tempat lain, menjauh dari sesuatu, atau meninggalkan sesuatu dengan tujuan yang baik. Dalam pandangan teori dan praktik Islam, hijrah memiliki arti yang dalam di bidang rohani, sosial, dan sejarah.

  • Secara konseptual, hijrah berarti perubahan dari seseorang yang semula selalu berbuat jahat menjadi berubah ke arah yang baik, seperti mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan banyak manfaat bagi orang lain dalam berbagai hal. Secara Teori hijrah dibagi dua: 1) Hijrah Makaniyah (Fisik) : Pindah dari satu kota ke kota yang lain. 2) Hijrah batin (hijrah spiritual/mental) : Perubahan dalam jiwa seseorang yang dulunya tidak taat kepada agama, menjadi seseorang yang berakhlak baik dan patuh pada agama. Agar memberikan dampak nyata dari teori di atas, kita bisa mulai menerapkannya sekarang ini, untuk menyambut tahun baru Islam besok. Tidak hanya berupa teori yang ada di pikiran saja, tetapi juga harus diterapkan secara nyata mulai sekarang.
  • Dalam kehidupan sehari-hari, hijrah itu adalah cara untuk memperbaiki diri, yaitu dengan mengendalikan diri sendiri, meningkatkan ibadah, dan mengembangkan diri secara keseluruhan.

Dari sudut pandang filosofis, hijrah sebenarnya adalah perubahan cara berperilaku, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dalam upaya terus berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita tidak ada perubahan sama sekali, artinya kita tidak benar-benar hijrah. Saya ingat ada sebuah hadis Nabi atau ucapan bijak dari ulama, kalau tidak salah ya! Suaranya begini: “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” Barang siapa hari ini persis seperti hari kemarin, maka ia termasuk orang yang tidak untung. Dan siapa saja yang hari ini kondisinya lebih buruk dibandingkan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.

Nah, begitulah kehidupan sangat dinamis, tidak statis. Mudah diucapkan, tapi susah dilakukan, kadang-kadang hal-hal yang sederhana itu justru berharga mahal. Untuk menebusnya itu butuh kekuatan yang luar biasa. Artinya apa? Untuk menjadi pribadi yang lebih baik tidak perlu menunggu tahun baru Hijriah, itulah yang dimaksud dengan hakikat manifestasi perubahan dalam konteks merayakan tahun baru Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *